Mabadiul Chamsah

"MABADIUL CHAMSAH"
Allahu Ghoyatuna
Ar-Rasul Qudwatuna
Al-Quran Dusturuna
Al-Jihad Sabiluna
Al Mautu fi sabilillah asma’ a’manina….
Allah adalah tujuan kami | Rasulullah teladan kami | Al-Qur’an pedoman hidup kami | Jihad adalah jalan juang kami | Mati di jalan Allah adalah cita2 kami tertinggi

Rabu, 26 Mei 2010

Pluralisme dalam Perspektif Islam

Pendahuluan
Pluralisme agama telah menjadi salah satu wacana kontemporer yang sering dibicarakan akhir-akhir abad 20, khususnya di Indonesia. Wacana ini sebenarnya ingin menjembatani hubungan antaragama yang seringkali terjadi disharmonis dengan mengatasnamakan agama, diantaranya kekerasan sesama umat beragama, maupun kekerasan antarumat beragama.
Di kalangan media saat ini terdapat pandangan umum bahwa Islam tidak mendukung pluralisme. Lebih menyedihkan lagi, kerap kali kita mendengar bagaimana susahnya minoritas non-Muslim untuk bisa hidup secara damai dan harmonis di negara-negara Muslim. Tindakan kekerasan orang-orang ekstrimis yang menyalahgunakan teologi Islam untuk membenarkan serangan jahatnya semakin mengentalkan prasangka buruk terhadap Muslim, dan saat ini banyak orang mengira bahwa orang-orang Muslim tidak percaya akan pluralisme dan keragaman. Padahal, sebaliknya, sejarah menunjukkan bahwa Islam — sebagaimana diajarkan oleh al- Qur’an serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad beserta para sahabatnya — benar-benar menerima, merayakan, dan bahkan mendorong kemajemukan.
Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui adanya pluralisme agama. Pluralisme agama menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai pluralisme karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak-hak penganut agama lain untuk hidup bersama dan menjalankan ajaran masing-masing dengan penuh kesungguhan.
Oleh karena itu didalam tulisan ini penulis mencoba membuka tabir atau menyodorkan bukti-bukti yang dapat dijadikan acuan bahwa islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi Pluralisme.
Definisi Pluralisme
Pluralisme agama bisa dipahami dalam minimum tiga kategori. Pertama, kategori sosial. Dalam pengertian ini, pluralisme agama berarti ”semua agama berhak untuk ada dan hidup”. Secara sosial, kita harus belajar untuk toleran dan bahkan menghormati iman atau kepercayaan dari penganut agama lainnya. Kedua, kategori etika atau moral. Dalam hal ini pluralisme agama berarti bahwa ”semua pandangan moral dari masing-masing agama bersifat relatif dan sah”. Jika kita menganut pluralisme agama dalam nuansa etis, kita didorong untuk tidak menghakimi penganut agama lain yang memiliki pandangan moral berbeda, misalnya terhadap isu pernikahan, aborsi, hukuman gantung, eutanasia, dll. Ketiga, kategori teologi-filosofi. Secara sederhana berarti ”agama-agama pada hakekatnya setara, sama-sama benar dan sama-sama menyelamatkan”. Mungkin kalimat yang lebih umum adalah ”banyak jalan menuju Roma”. Semua agama menuju pada Allah, hanya jalannya yang berbeda-beda
Kata “pluralisme agama” berasal dari dua kata, yaitu “pluralisme” dan “agama” dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan “al-ta’ddudiyah” dan dalam bahsa Inggris “religius pluralism”. Dalam bahasa Belanda, merupakan gabungan dari kata plural dan isme. Kata “plural” diartikan dengan menunjukkan lebih dari satu. Sedangkan isme diartikan dengan sesuatu yang berhubungan dengan paham atau aliran. Dalam bahasa Inggris disebut pluralism yang berasal dari kata “plural” yang berarti lebih dari satu atau banyak. Dalam Kamus The Contemporary Engglish-Indonesia Dictionary, kata “plural” diartikan dengan lebih dari satu/jamak dan berkenaan dengan keaneka ragaman. Jadi pluralisme, adalah paham atau sikap terhadap keadaan majemuk, baik dalam konteks sosial, budaya, politik, maupun agama. Sedangkan kata “agama” dalam agama Islam diistilahkan dengan “din” secara bahasa berarti tunduk, patuh, taat, jalan. Pluralisme agama adalah kondisi hidup bersama antarpenganut agama yang berbeda-beda dalam satu komonitas dengan tetap mempertahankan cirri-ciri spesifik ajaran masing-masing agama.
Dengan demikian yang dimaksud “pluralisme agama” adalah terdapat lebih dari satu agama (samawi dan ardhi) yang mempunyai eksistensi hidup berdampingan, saling bekerja sama dan saling berinteraksi antara penganut satu agama dengan penganut agama lainnya, atau dalam pengertian yang lain, setiap penganut agama dituntut bukan saja mengakui keberadan dan menghormati hak agama lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan, guna tercapainya kerukunan dalam keragaman. Dalam prepektif sosiologi agama, secara terminology, pluralisme agama dipahami sebagai suatu sikap mengakui dan menerima kenyataan kemajemukan sebagai yang bernilai positif dan merupakan ketentuan dan rahmat Tuhan kepada manusia
Pluralisme Dalam Islam
Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi aspek-aspek kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui adanya pluralisme agama. Pluralisme agama menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai pluralisme karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak-hak penganut agama lain untuk hidup bersama dan menjalankan ajaran masing-masing dengan penuh kesungguhan.
Dalam Islam berteologi secara inklusif dengan menampilkan wajah agama secara santun dan ramah sangat dianjurkan. Islam bahkan memerintahkan umat Islam untuk dapat berinteraksi terutama dengan agama Kristen dan Yahudi dan dapat menggali nilai-nilai keagamaan melalui diskusi dan debat intelektual/teologis secara bersama-sama dan dengan cara yang sebaik-baiknya (QS al-Ankabut/29: 46), tentu saja tanpa harus menimbulkan prejudice atau kecurigaan di antara mereka.
Agama Islam adalah agama damai yang sangat mengahargai, toleran dan membuka diri terhadap pluralisme agama. Isyarat-isyarat tentang pluralisme agama sanagat banyak ditemukan di dalam al-qur’an antara lain Firman Allah “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 109/6). Pluarlisme agama adalah merupakan perwujudan dari kehenddak Allah swt. Allah tidak menginginkan hanya ada satu agama walaupun sebenarnya Allah punya kemampuan untuk hal itu bila Ia kehendaki. “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu.” (QS. Hud: 11/118). Dalam al-qur’an berulang-ulang Allah manyatakan bahwa perbedaan di antara umat manusia, baik dalam warna kulit, bentuk rupa, kekayaan, ras, budaya dan bahasa adalah wajar, Allah bahkan melukiskan pluralisme ideologi dan agama sebagai rahmat. Allah menganugrahkan nikmat akal kepada manusia, kemudian dengan akal tersebut Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih agama yang ia yakini kebenarannya tanpa ada paksaan dan intervensi dari Allah. Sebagaimana Firmannya “Tidak ada paksaan dalam agama”. (QS. Al Baqarah: 2/256). Manusia adalah makhluk yang punya kebebasan untuk memilih dan inilah salah satu keistimewaan manusia dari makhluk lainnya, namun tentunya kebebasa itu adalah kebabsan yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah swt.
Kitab suci al-qur’an diturunkan dalam konteks kesejarahan dan stuasi keagamaan yang pluralistik (plural-religius). Setidaknya terdapat empat bentuk keyakinan agama yang berkembang dalam masyarakat Arab tempat Muhammad saw. menjalankan misi profetkinya sebelum kehadiran Islam, yaitu Yudaisme (Yahudi); Kristen, Zoroastrianisme dan agama Makkah sendiri. Tiga di antaranya yang sangat berpengaruh dan senantiasa disinggung oleh al-qur’an dalam berbagai levelnya adalah Yahudi, Kristen dan agama Makkah.
Kedatangan al-qur’an ditengah-tengah pluralitas agama tidak serta-merta mendeskriditkan agama-agama yang berkembang pada saat itu, tapi al-quran sangat bersifat asfiratif, akomodatif, mengakui dan membenarkan agama-agama yang datang sebelum al-qur’an diturunkan. Bahkan lebih jauh dari itu al-qur’an juga mengakui akan keutamaan umat-umat terdahulu sebagaimana terdapat dalam ayat. “Whai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di ala mini (pada masa itu)”. (QS. Al-Baqarah: 2/47). Dalam ayat ini, tergambar suatu sikap pengakuan al-qur’an akan keunggulan dan keutamaan umat-umat terdahulu sebelum umat Islam.
Al-qur’an sebagai sumber normatif bagi satu teologi inklusif-pluralis. Bagi kaum muslimin, tidak ada teks lain yang mempunyai posisi otoritas mutlak dan tak terbantahkan selain al-qur’an. Maka, al-qur’an merupakan kunci untuk menemukan dan memahami konsep pluralisme agama dalam al-qur’an.
Berikut beberapa ayat Dalam Alqur’a Yang menyiratkan tentang pluralisme :

• Perintah Islam agar umatnya bersikap toleran, bukan hanya pada agama Yahudi dan Kristen, tetapi juga kepada agama-agama lain. Ayat 256 surat al-Baqarah mengatakan bahwa tidak ada paksaan dalam soal agama karena jalan lurus dan benar telah dapat dibedakan dengan jelas dari jalan salah dan sesat. Terserahlan kepada manusia memilih jalan yang dikehendakinya. Telah dijelaskan mana jalan benar yang akan membawa kepada kesengsaraan. Manusia merdeka memilih jalan yang dikehendakinya. Kemerdekaan ini diperkuat oleh ayat 6 surah al-Kafirun yang mengatakan: Bagimulah agamamu dan bagiku agamaku.
• Pluralitas adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau Sunnah Allah, sebagaimana firman Allah SWT: “ Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal” (Al Hujurat 49: 13).
• Dalam kaitannya yang langsung dengan prinsip untuk dapat menghargai agama lain dan dapat menjalin persahabatan dan perdamaian dengan ‘mereka’ inilah Allah, di dalam al-Qur’an, menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika ia menunjukkan keinginan dan kesediaan yang menggebu untuk memaksa manusia menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “Jika Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri? (Q.S. Yunus: 99).
• Dalam bidang hukum agama, norma-norma dan peraturan kaum Yahudi dan Nasrani diakui (QS al-Maidah: 47) dan bahkan dikuatkan oleh Nabi ketika beliau diseru untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka (QS al-Maidah: 42-43).
• Dan Masih banyak lagi

Pengakuan al-qur’an terhadap pluralisme dipertegas lagi dalam khutbah perpisahan Nabi Muhammad. Sebagimana dikutip oleh Fazlur Rahman, ketika Nabi menyatakan bahwa, “Kamu semua adalah keturunan Adam, tidak ada kelebihan orang Arab terhadap orang lain, tidak pula orang selain Arab terhadap orang Arab, tidak pula manusia yang berkulit putih terhadap orang yang berkulit hitam, dan tidak pula orang yang hitam terhadap yang putih kecuali karena kebajikannya.” Khutbah ini menggambarkan tentang persamaan derajat umat manusia dihadapan Tuhan, tidak ada perbedaan orang Arab dan non Arab, yang membedakan hanya tingkat ketakawaan
Sungguh menarik untuk mencermati dan memahami pengakuan al-qur’an sebagai kitab suci umat Islam yang berfungsi sebagai petunjuk (hudan) dan obat penetram (syifa li mafi al-shudhur) terhadap pluralitas agama, jika ayat-ayat al-qur’an dipahami secara utuh, ilmiah-kritis-hermeneutis, terbuka, dan tidak memahaminya secara ideiologis-politis, tertutup, al-qur’an sangat radikal dan liberal dalam mengahadapi pluralitas agama.
Secara normatif-doktrinal, al-qur’an dengan tegas menyangkal dan menolak sikap eksklusif dan tuntutan truth claim (klaim kebenaran) secara sepihak yang berlebihan, seperti biasa melekat pada diri penganut agama-agama, termasuk para penganut agama Islam. Munculnya klaim kebenaran sepihak itu pada gilirannya akan membawa kepada konflik dan pertentangan yang menurut Abdurrahman Wahid, merupakan akibat dari proses pendangkalan agama, dan ketidak mampuan penganut agama dalam memahami serta menghayati nilai dan ajaran agama yang hakiki. Al-qur’an berulangkali mengakui adanya manusia-manusia yang saleh di dalam kaum-kaum tersebut, yaitu Yahudi, Kristen, dan Shabi’in seperti pengakuannya terhadap adanya manusia-manusia yang beriman di dalam Islam. Ibnu ‘Arabi salah seorang Sufi kenamaan mengatakan, bahwa setiap agama wahyu adalah sebuah jalan menuju Allah, dan jalan-jalan tersebut berbeda-beda. Karena penyingkapan diri harus berbeda-beda, semata-mata anugrah Tuhan yang juga berbeda. Jalan bisa saja berbeda-beda tetapi tujuan harus tetap sama, yaitu sama-sama menuju kepada satu titik yang sama yakni Allah swt.
Penutup
Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui adanya pluralisme agama. Pluralisme agama menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai pluralisme karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak-hak penganut agama lain untuk hidup bersama dan menjalankan ajaran masing-masing dengan penuh kesungguhan.
Al-qur’an sebagai sumber normatif bagi satu teologi inklusif-pluralis. Bagi kaum muslimin, tidak ada teks lain yang mempunyai posisi otoritas mutlak dan tak terbantahkan selain al-qur’an. Maka, al-qur’an merupakan kunci untuk menemukan dan memahami konsep pluralisme agama dalam al-qur’an.
Pluarlisme agama adalah merupakan perwujudan dari kehenddak Allah swt. Allah tidak menginginkan hanya ada satu agama walaupun sebenarnya Allah punya kemampuan untuk hal itu bila Ia kehendaki. “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu.” (QS. Hud: 11/118). Dalam al-qur’an berulang-ulang Allah manyatakan bahwa perbedaan di antara umat manusia, baik dalam warna kulit, bentuk rupa, kekayaan, ras, budaya dan bahasa adalah wajar, Allah bahkan melukiskan pluralisme ideologi dan agama sebagai rahmat. Allah menganugrahkan nikmat akal kepada manusia, kemudian dengan akal tersebut Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih agama yang ia yakini kebenarannya tanpa ada paksaan dan intervensi dari Allah. Sebagaimana Firmannya “Tidak ada paksaan dalam agama”. (QS. Al Baqarah: 2/256). Manusia adalah makhluk yang punya kebebasan untuk memilih dan inilah salah satu keistimewaan manusia dari makhluk lainnya, namun tentunya kebebasa itu adalah kebabsan yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah swt. dikutip dari http://www.yusupbakri.co.cc/2010/01/pluralisme-dalam-perspektif-islam.html
Lanjuuttt nyoookk....

Rabu, 24 Maret 2010

Ekspedisi pencarian N-Gage Sayaang...


SREEEEETTTTTTTTT...
Eiit,,,
Hufhf..
Salam dulu ah... Assalamu’alaikum Ikhwah...Waduh,, dah lama euy ga menjamah blog lagi.,, akhirnya sempet juga nulis sepatah dua patah kata lah,,,hehe.
Pengen cerita nih... sekarang kan lagi UAN kaka kelas kita nih,, so otomatis kite-kite libur euy. Nah, diliburan kali ini ane nyempatin buat maen ke rumah salah satu temen di daerah Blitar. Ya karena dah janji sama bundanya dari zaman jebod, and pengen cari pengalaman baru, akhirnya telah ku putuskan tuk menjelajahi kota ini. Blitar, yahh,, Blitar,,, kota yang penuh arti sejarah. Kalo kita inget-inget sejarah, Soekarno lahir disini and di makamin di sini. Soepriyadi, U know that?? The young hero from this city. Yeah,, yang mati muda juga itu loh,,, Yaah pokoknya gitulah kalo Blitar diliat dari kacamata sejarah.
Beda lagi dengan kacamata butut seorang Iqbal, Blitar ane anggep sebage kota yang menjadi integrasi dari 2 kota di Jawa Barat. Loh,, kok bisa?? Bisa dunk!!! Kenape? Gampang ajahh!!!!  Blitar tuh mewakili kota Kuningan and Indramayu loh mpok. Ouuwww  emang apenye??  Nih, suasana kotanya terkadang panas, banyak sawah mirip Indramayu. Nah yang mewakili Kuningannye mane?  Disini walaupun kotanya berada di daerah dataran nanggung (rendah enggak tinggi juga enggak,,yah tengah-tengah lahh), ternyata banyak jalan-jalan yang  naek turun juga, and yang buat kentel ma Kuningannye tuh masih banyak hutan -hutan bambunyee jugee.. walaupun ada perbedaan dari kedua kota yang merepresentasikannya, Blitar ndiri ga punya Laut, and ga Punya gunung ternyata mpok!!! Hoho, tapi gapapa, yang penting rasa kangen ma kota Indramayu Kuningan sudah sedikit terobati. Hoho
Ini ko malah ngedeskripsiin Blitar sih,, mana ceritanyee nih??? SABAR MPOOOK!!!!!!!!
Cerita ini berawal dari hawa nafsu yang mendalam (whehehe,, gayamu make bahas-bahas nafsu segalee, Baaaall!!!). Yah, nafsu pengen punya hape N-Gage Classics euyy..hahaha!!!! Berawal dari  nyampenya ane di Blitar, sekitar jam 5 sorean baru nyampe (tuh kalo ga salah tanggal 21 Maret). Malemnya langsung cabuuuutt ke Blitar kota buat nyari tuh HP.. GILEEE!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Mantap jaya!!!!!!!!!! Naek motor malem2 kecepatan 120 keatas beuuhhh,, memang gile temenku itu. Ane sih ga masalah, tapi hape disaku takut lepas dari kandangnya..hoho…
Nyampe di Kota, langsung menyusuri satu konter demi satu konter. Tujuan pertama ada konter yang katanya paling lengkap di kota Blitar, walaupun tuh konter kecil amet. Ditanya tanya ternyata KOSONG katanya!!! Uhff. Harapan berkurang satu! Lanjutnya temenku langsung bawa motornya ke sebuah nama Jalan, Veteran namanya. Nah, d sono nooh konter-konter hape jejer and berbaris layaknya lagi Latian baris berbaris ala DU2,, wkkwkw. Yah kalo di itung sekitar ada 50 konter lah. Satu demi satu konter disusuri, satu demi satu konter di tanyai, “MAS ADA N-GAGE?”. Tapi tetep mereka bilang,” GA ONO, KOSONG REK!” alaaahh jadi bosen deh. Tapi di ujung pencarian di Jl. Veteran ada secercah harapan ketika ditanya dia ngejawab “ Bentar Tunggu!” ,” Yeaahh akhirnya ini puncak pencarianku.” gumam batinku. Pas diliat tuh HP, ane Illfeel setengah mati sumpahh!!!! Beuh!!! Harganya gilaaa,,, kondisi babak belur kaya abis dipukulin warga, ga da kardusnya lagi.. SUMPAH!!! ILFEEL!!!! GA!!!!!!!!!!!!!. Kecewa Berat ane!!!!!!
Tanpa ada rasa menyerah sedikitpun, walaupun tuh MX dah minta dibeliin bensin, ane n temen ane mencoba mencari satu harapan pasti. Haha.. setelah mencari di lain tempat, kita nemuin satu konter yang memberi satu petunjuk adanya harta karun, upzzz gaK bukan,, apa yang kita cari itu. Dua orang penjaga konter (kebetulan cewek) senyam senyum ngeliat ane and temen ane,  ga tau kenape, mungkin mereka bilang “Tuh loh yang make jaket (red. Ane) ko ganteng ameet yah,, coba kamu mintain nomer teleponnya(sambil nyuruh penjaga yang satu laginya)”  ato mungkin mereka bilang “Loh, kok ituloh yang tadi nyetir motor (red. Temen ane) kok mirip sama orang yang semalem ketangkep basah nyodom kucing itu yah,”wkwkwkwkw (moga-moga temen ane ga liat nih blog, Ya ALLAH!!!). Nah intinya sih, mereka nyuruh kita pergi ke konter yang ada di daerah sekitar pemakamanya Bung Karno.
Yeaaahhh,, kita langsung cabut tuh ke sono.. (yaa menguntungkan bagi ane bisa tau makamnya bung Karno, di Indramayu ga ada sih PAYAHH!!!). menyusuri daerah yang agak gelap (karena ketika itu sekitar jam 10 maleman), di tengah perjalanan, temen ane ngadain acara KELUPAAN!!!!!!!!!!!! SIALL!! Katanyee die lupe jalannye manee,,huhu, kudu tanya ma orang situ dulu atuh!!! Bagian tanya tanya urusan Iqbal yang nyelesein,,hahah.. singkat cerite, kita dah ketemu sama tuh konter, tapi sayangnya tuh konter TUTUP!!! Kelamaan sih loe ahh, make ngadain acara kelupaan segala sih!!!(sambil menyalahkan temen ane). Ya sudahlah, Langsung kita menuju rumahmuu soob,, kita pulaanngg!!!!!!!!!!!!!!
Hahah (kok kayaknya dicerita ini temen ane ko ngerasa di diskriminasikan gitu yah, ahahhaa, melas dia mukanya (SUDAH TAKDIR MUNGKIN!!! wkwkk). 
Nah,,, besoknya kita cari lagi tuh harapan yang semalem sirna.hahah
Pagi-pagi kita langsung nyari di konter-konter daerah kecamatannya. Baru tanya satu konter, Alhamdulillah euyy langsung dapet (ALHAMDULILLAH,, akhirnya ga usah capek capek nyari lagi). Spesifikasinya, status yang dimiliki tuh hape janda muda, alias masih mantaap!!! Dengan kardus lengkap dan serba asli segalanya. Harga lebih murah dari pada yang semalem(semalem sih nyekeek diriku). Setelah terjadi tawar menawar harga, akhirnya keputusan final, DEAL DIBELI!! Langsung tuh di konter ditulis, UNTUK N-GAGE SOLD OUT KARENA TELAH DIBELI OLEH ORANG ANEH!!! Wkwkwk.
Langsung deh hari itu ane cari-cari aplikasi tambahan buat si N-Gageku sayang…  maklum dah sekitar 3 tahun ngidam-ngidamin tuh hape tapi ga kesampean. Hoho
Akhirnya ekspedisi mencari N-Gageku berakhir.
Doakan wahai pembaca agar N-Gageku bisa langgeng melayani dan menemani si empunya. Amieen!!!
Lanjuuttt nyoookk....

Jumat, 19 Maret 2010

Teori Filsafat Episteme

TEORI PERENIALISME

Perenialisme adalah suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi atau kekal. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Dalam pendidikan, kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.
Sementara pandanganya dalam hal kenyataan, perenialisme berpendapat bahwa apa yang dibutuhkan manusia terutama ialah jaminan bahwa realita itu bersifat universal bahwa realita itu ada di mana saja dan sama di setiap waktu. Dengan keputusan yang bersifat ontologism kita akan sampai pada pengertian pengerian hakikat. Ontologi perenialisme berisikan pengertian : benda individual, esensi, aksiden dan substansi. Benda individual adalah benda yang sebagaimana nampak di hadapan manusia yang dapat ditangkap oleh indera kita seperti batu, kayu,dll
Esensi dari sesuatu adalah suatu kualitas tertentu yang menjadikan benda itu lebih baik intrinsic daripada halnya, misalnya manusia ditinjau dari esensinya adalah berpikir Aksiden adalah keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensialnya, misalnya orang suka dengan barang-barang antik.
Substansi adalah suatu kesatuan dari tiap-tiap hal individu dari yang khas dan yang universal, yang material dan yang spiritual.
Sementara itu dalam persoalan nilai ia memiliki aliran bahwa nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sedangkan perbuatan manusia merupakan pancaran isi jiwanya yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan. Secara teologis, manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi, yaitu nilai yang merupakan suatu kesatuan dengan Tuhan. Untuk dapat sampai kesana manusia harus berusaha dengan bantuan akal rationya yang berarti mengandung nilai kepraktisan.
Menurut Aristoteles, kebajikan dapat dibedakan: yaitu yang moral dan yang intelektual. Kebajikan moral adalah kebajikan yang merupakan pembentukan kebiasaan, yang merupakan dasar dari kebajikan intelektual. Jadi, kebajikan intelektual dibentuk oleh pendidikan dan pengajaran. Kebajikan intelektual didasari oleh pertimbangan dan pengawasan akal. Oleh perenialisme estetika digolongkan kedalam filsafat praktis. Kesenian sebagai salah satu sumber kenikmatan keindahan adalah suatu kebajikan intelektual yang bersifat praktis filosofis. Hal ini berarti bahwa di dalam mempersoalkan masalah keindahan harus berakar pada dasar-dasar teologis, ketuhanan.
Kepercayaan adalah pangkal tolak perenialisme mengenai kenyataan dan pengetahuan. Artinya sesuatu itu ada kesesuaian antara piker (kepercayaan) dengan benda-benda. Sedang yang dimaksud benda adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip keabadian.Oleh karena itu, menurut perenialisme perlu adanya dalil – dalil yang logis, nalar, sehingga sulit untuk diubah atau ditolak kebenarannya
Perenialisme mengemukakan adanya hubungan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat. Science sebagai ilmu pengetahuan
Science yang meliputi biologi, fisika, sosiologi, dan sebagainya ialah pengetahuan yang disebut sebagai empiriological analysis yakni analisa atas individual things dan peristiwa peristiwa pada tingkat pengalaman dan bersifat alamiah. Science seperti ini dalam pelaksanaan analisa dan penelitiannya mempergunakan metode induktif. Selain itu, juga mempergunakan metode deduktif, tetapi pusat penelitiannya ialah meneliti dan mencoba dengan data tertentu yang bersifat khusus. Filsafat sebagai pengetahuan
Menurut perenialisme, fisafat yang tertinggi ialah ilmu metafisika. Sebab, science dengan metode induktif bersifat empiriological analysis (analisa empiris); kebenarannya terbatas, relatif atau kebenarannya probability. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat ontological analysis, kebenaran yang dihasilkannya universal, hakiki, dan berjalan dengan hukum-hukum berpikir sendiri, berpangkal pada hukum pertama; bahwa kesimpulannya bersifat mutlak, asasi. Hubungan filsafat dan pengetahuan tetap diakui urgensinya, sebab analisa empiris dan analisa ontology keduanya dianggap perenialisme dapat komplementatif. Tetapi filsafat tetap dapat berdiri sendiri dan ditentukan oleh hukum-hukum dalam filsafat sendiri, tanpa tergantung kepada ilmu pengetahuan.
Teori atau konsep pendidikan perenialisme dilatarbelakangi oleh filsafat-filsafat Plato sebagai Bapak Idealisme Klasik, filsafat Aristoteles sebagai Bapak Realisme Klasik, dan filsafat Thomas Aquina yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajaran Gereja Katolik yang tumbuh pada zamannya

1.Plato
Plato (427-347 SM), hidup pada zaman kebudayaan yang sarat dengan ketidakpastian, yaitu fisafat sofisme. Ukuran kebenaran dan ukuran moral menurut sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral dan kebenaran, tergantung pada masing-masing individu. Plato berpandangan bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah karena telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya. Menurut Plato,dunia idea, yang bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Manusia menemukan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral dengan menggunakan akal atau ratio.
Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat adil sejahtera. Manusia yang terbaik adalah manusia yang hidup atas dasar prinsip idea mutlak yaitu suatu prinsip mutlak yang menjadi sumber realitas semesta dan hakikat kebenaran abadi yang transcendental yang membimbing manusia untuk menemukan criteria moral, politik, dan social serta keadilan. Ide mutlak adalah Tuhan

2.Aristoteles
Aristoteles (384-322 SM) adalah murid Plato, namun dalam pemikirannya ia mereaksi terhadap filsafat gurunya, yaitu idealisme. Hasil pemikirannya disebut filsafat realisme. Ia mengajarkan cara berpikir atas prinsip realistis, yang lebih dekat pada alam kehidupan manusia sehari-hari. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan social. Sebagai makhluk rohani, manusia sadar ia akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia ideal
Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat mencapainya. Ia menganggap penting pula pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral. Aristoteles juga menganggap kebahagiaan sebagai tujuan dari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat, totalitas. Aspek-aspek jasmaniah, emosi, dan intelek sama dikembangkan, walaupun ia mengakui bahwa kebahagiaan tertinggi ialah kehidupan berpikir (2:317)


3. Thomas Aquinas
Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata. Menurut J.Maritain, norma fundamental pendidikan adalah :
· Cinta kebenaran.
· Cinta kebaikan dan keadilan.
· Kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi.
· Cinta kerjasama
Kaum perenialis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakikat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah selam berabad-abad : jadi, gagasan-gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memecahkan permasalahan permasalahan di setiap zaman. Selain itu, filsafat perenialis menekankan kemampuan-kemampuan berpikir rasional manusia sehingga membedakan mereka dengan binatang-binatang lain.
Teori dasar dalam belajar menurut perenialisme adalah :
Mental disiplin sebagai teori dasar Penganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berpikir (mental discipline) adalah salah satu kewajiban tertinggi dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar (yang tertinggi). Karena itu teori dan program pendidikan pada umumnya dipusatkan kepada pembinaan kemampuan berpikir.
Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan. Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan ; otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Dan makna kemerdekaan pendidikan ialah membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri, be him-self, sebagai essential-self yang membedakannya daripada makhluk- makhluk lain. Fungsi belajar harus diabdikan bagi tujuan ini, yaitu aktualitas manusia sebagai makhluk rasional yang dengan itu bersifat merdeka.
Learning to Reason ( Belajar untuk Berpikir) Perenialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to reason menjadi tujuan pokok pendidikan sekolah menengah dan pendidikan tinggi.
Belajar sebagai Persiapan Hidup Bagi Thomisme, belajar untuk berpikir dan belajar untuk persiapan hidup (dalam masyarakat) adalah dua langkah pada jalan yang sama, yakni menuju kesempurnaan hidup, kehidupan duniawi menuju kehidupan syurgawi.
Learning through Teaching (belajar melalui Pengajaran)
Adler membedakan antara learning by instruction dan learning by discovery, penyelidikan tanpa bantuan guru. Dan sebenarnya learning by instruction adalah dasar dan menuju learning by discovery, sebagai self education. Menurut perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses belajar sementara mengajar. Guru mengembangkan potensi-potensi self discovery ; dan ia melakukan moral authority atas murid-muridnya, karena ia adalah seorang professional yang qualified dan superior dibandingkan muridnya.
Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.
Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:
1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)
Adapun norma fundamental pendidikan menurut J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama.

TEORI PROGRESIVISME
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.



TEORI KONSTRUKTIVISME
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
  1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
  2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
  3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
  4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
  5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
  6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar.
Lebih dua dasa warsa terakhir ini, dunia pendidikan mendapat sumbangan pemikiran dari teori konstruktivisme sehingga banyak negara mengadakan perubahan-perubahan secara mendasar terhadap sistem dan praktik pendidikan mereka, bahkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pun tak luput dari pengaruh teori ini. Paul Suparno dalam “Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan” mencoba mengurai implikasi filsafat konstruktivisme dalam praktik pendidikan. Berikut ini adalah intisari buku tersebut, sekiranya bisa bermanfaat bagi para pendidik dan orangtua.
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut.
Jika behaviorisme menekankan ketrampilan atau tingkah laku sebagai tujuan pendidikan, sedangkan maturasionisme menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan usia, sementara konstruktivisme menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap tidak akan berkembang pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses itu keaktivan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya.
Jean Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme, sedangkan teori pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup, demikian juga struktur pemikiran manusia. Manusia berhadapan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secaca kognitif (mental). Untuk itu, manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan, menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut. Dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang. Proses tersebut meliputi:
1. Skema/skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan. Skema juga berfungsi sebagai kategori-kategori utnuk mengidentifikasikan rangsangan yang datang, dan terus berkembang.
2. Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya, hanya menambah atau merinci.
3. Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.
4. Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya (skemata). Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi.
Menurut Ausubel, ada dua macam proses belajar yakni belajar bermakna dan belajar menghafal. Belajar bermakna berarti informasi baru diasimilasikan dalam struktur pengertian lamanya. Belajar menghafal hanya perlu bila pembelajar mendapatkan fenomena atau informasi yang sama sekali baru dan belum ada hubungannya dalam struktur pengertian lamanya. Dengan cara demikian, pengetahuan pembelajar selalu diperbarui dan dikonstruksikan terus-menerus. Jelaslah bahwa teori belajar bermakna Ausubel bersifat konstruktif karena menekankan proses asimilasi dan asosiasi fenomena, pengalaman, dan fakta baru ke dalam konsep atau pengertian yang sudah dimiliki siswa sebelumnya.
Berlandaskan teori Piaget dan dipengaruhi filsafat sainsnya Toulmin yang mengatakan bahwa bagian terpenting dari pemahaman manusia adalah perkembangan konsep secara evolutif, dengan terus manusia berani mengubah ide-idenya, Posner dkk lantas mengembangkan teori belajar yang dikenal dengan teori perubahan konsep. Tahap pertama dalam perubahan konsep disebut asimilasi, yakni siswa menggunakan konsep yang sudah dimilikinya untuk menghadapi fenomena baru. Namun demikian, suatu ketika siswa dihadapkan fenomena baru yang tak bisa dipecahkan dengan pengetahuan lamanya, maka ia harus membuat perubahan konsep secara radikal, inilah yang disebut tahap akomodasi.
Tugas pendidikan adalah bagaimana dua tahap tersebut bisa terus berlangsung dengan terus memberi tantangan sehingga ada ketidakpuasan terhadap konsep yang telah ada. Praktik pendidikan yang bersifat hafalan seperti yang selama ini berlangsung jelas sudah tidak memadai lagi, bahkan bertentangan dengan hakikat pengetahuan dan proses belajar itu sendiri.
Beberapa macam konstruktivisme Von Glaserfeld membedakan tiga level konstruktivisme dalam kaitan hubungan pengetahuan dan kenyataan, yakni konstruktivisme radikal, realisme hipotesis, dan konstruktivisme yang biasa.
Konstruktivisme radikal mengesampingkan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan sebagai kriteria kebenaran. Bagi kaum radikal, pengetahuan adalah suatu pengaturan atau organisasi dari suatu obyek yang dibentuk oleh seseorang. Menurut aliran ini kita hanya tahu apa
yang dikonstruksi oleh pikiran kita. Pengetahuan bukanlah representasi kenyataan. Realisme hipotesis memandang pengetahuan sebagai suatu hypotesis dari suatu struktur kenyataan dan sedang berkembang menuju pengetahuan yang sejati yang dekat dengan realitas. Sedangkan konstruktivisme yang biasa, masih melihat pengetahuan sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu objek.
Dari segi subyek yang membetuk pengetahuan, dapat dibedakan antara konstruktivisme psikologis personal, sosiokulturalisme, dan konstruktivisme sosiologis. Yang personal dengan tokohnya Piaget, menekankan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh seseorang secara
pribadi dalam berinteraksi dengan pengalaman dan objek yang dihadapinya. Orang itu sendiri yang membentuk pengetahuan. Sosiokulturalisme yang ditokohi oleh Vygotsky, menjelaskan bahwa pengetahuan dibentuk baik secara pribadi tetapi juga oleh interaksi sosial dan kultural dengan orang-orang yang lebih tahu tentang hal itu dan lingkungan yang mendukung. Dengan dimasukkannya seseorang dalam suatu masyarakat ilmiah dan kultur yang sudah punya gagasan tertentu, maka orang itu membentuk pengetahuannya. Sedangkan konstruktivisme sosiologis menyatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh masyarakat sosial. Unsur masyarakatlah yang penting, sedang unsur pribadi tidak diperhatikan.
Dampaknya terhadap pendidikan dalam pengertian konstruktivisme, belajar adalah suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dibuat sendiri oleh pelajar atau orang yang mau mengerti. Orang itulah yang aktif berpikir, membuat konsep, dan mengambil makna. Guru atau pendidik di sini hanyalah membantu agar proses konstruksi itu berjalan. Guru bukan
mentransfer pengetahuan sebagai yang sudah tahu, tetapi membantu agar anak didik membentuk pengetahuannya.
Dalam pengertian konstruktivisme, murid tidak dianggap sebagai suatu tabula rasa yang kosong, yang tidak mengerti apa-apa sebelumnya. Murid dipahami sebagai subyek yang sudah membawa "pengertian awal" akan sesuatu sebelum mereka mulai belajar secara formal. Bahkan seorang murid klas 1 SD pun sudah membawa pengetahuan awal mengenai macam-macam hal yang dalam tarafnya berlaku untuk memecahkan persoalan. Pengetahuan awal tersebut, meski kadang sangat naif atau tidak cocok dengan pengertian para ahli, perlu diterima dan nanti dibimbing untuk semakin sesuai dengan pemikiran para ahli. Pemikiran mereka itu meski naif, bukanlah salah; tetapi terbatas berlakunya.

Teori pendidikan dan pengajaran di amerika serikat di dominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949) teori belajar Thorndike di sebut “ Connectionism” karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini sering juga disebut “Trial and error” dalam rangkan menilai respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing, dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa.
Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu, dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya.
Ciri-ciri belajar dengan trial and error :

1. Ada motif pendorong aktivitas

2. Ada berbagai respon terhadap situasi

3. Ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah

4. Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu


Lanjuuttt nyoookk....

Jumat, 02 Oktober 2009

Ancaman Islam Transnasional?

Oleh : Tiar Anwar Bachtiar

(Ketua PP Pemuda Persatuan Islam)


Beberapa tahun belakangan ini, terutama setelah peristiwa WTC 11/9/2001, muncul istilah baru bagi beberapa gerakan Islam di Indonesia, yaitu “Islam Transnasional”. Istilah ini merujuk pada gerakan-gerakan Islam baru yang memiliki jejaring internasional, baik sebagai cabang maupun yang hanya memiliki hubungan personal-ideologis. Gerakan-gerakan yang dimaksud biasanya secara eksplisit dituduhkan pada PKS, HTI, dan Salafi.

PKS dianggap sebagai kepanjangan tangan ideologis Ikhwanul Muslimin yang berpusat di Mesir dan berjejaring internasional. Tidak ada bukti-bukti yang kuat bahwa PKS adalah cabang IM di Indonesia. Namun, menilik pada pola gerakan dan semangat ideologis yang tampak, memang tidak bisa ditampik bahwa keterpengaruhan PKS oleh gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al-Bana tahun 1928 itu.

HTI sudah jelas merupakan cabang Hizbut-Tahrir yang berpusat di Libanon. Selain jelas dalam isu-isu yang diangkat, kepemimpinan Hizbut-Tahrir Indonesia memiliki hubungan langsung secara organisatoris dengan cabang-cabang lain di seluruh dunia. Pada aar Konfrensi Khilafah Internasional tahun 2007 di Senayan, terlihat hubungan itu secara sangat telanjang.

Sementara itu, jamaah Salafi yang sebagian besar tidak mempedulikan struktur dan organisasi dianggap sebagai bagian dari Islam transnasional karena menyebarluaskan ajaran-ajaran Muhammad Ibn Abdul Wahab. Kepada kelompok ini secara tidak terlalu tepat sering dilekatkan istilah “Wahabi”. Bahkan istilah “Wahabi” ini secara mudah sering juga dilekatkan kepada semua gerakan yang dianggap “trannasional”.

Isu Islam transnasional ini seringkali disikapi secara salah dan tidak proporsional. Dalam buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan oleh LibForAll pertengahan Mei lalu, misalnya, disimpulkan bahwa gerakan ini adalah gerakan “asing” yang sangat berbahaya bagi eksistensi NKRI. Gerakan ini dianggap gerakan yang ingin mendirikan negara Islam atau kekhalifahan Islam dan menggusur NKRI. Oleh sebab itu, di akhir buku ini disarankan agar gerakan ini menjadi semacam “musuh bersama” semua gerakan-gerakan Islam lokal dan tradisional yang ada di Indonesia. Benarkah demikian?

Islam Transnasional: Konsep Absurd
Dalam kasus ini, ada beberapa hal yang harus dicermati secara arif. Pertama, secara terminologi, sesungguhnya penamaan “transnasional” ini terlihat serampangan. Pasalnya, sejarah agama-agama besar di Indonesia tidak ada yang tidak “transnasional”. Islam sendiri memang bukan asli Indonesia sama sepertii Kristen, Katolik, Hindu, Budha, atau Konghucu. Wali Songo itu hanya Sunan Kalijaga yang asli berdarah Indonesia (baca: Jawa). Delapan Wali lain berdarah Arab atau campuran Arab-Jawa. Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan lainnya muncul membawa pengaruh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaludin Al-Afghani.

Melihat fakta-fakta ini apa sesungguhnya yang perlu dirisaukan dari HTI, PKS, Salafi, atau gerakan Islam lain yang terpengaruh oleh pemikiran non-Indonesia? Bukankah Muhammadiyah dan organisasi lainnya pun terpengaruh oleh para pemikir asing? Bahkan NU yang disebut-sebut sebagai organisasi Islam tradisionalis sesungguhnya bukan asli Indonesia. Kalau NU mengklaim melanjutkan ajaran para Wali, bukankah itu berarti ajaran yang disebarkan NU adalah ajaran-ajaran “impor”? Bukankah pula mazhab Syafi’i yang dijadikan rujukan utama warga NU juga bukan asli Indonesia? Jadi sangat tidak relevan membenturkan HTI, PKS, Salafi dengan NU-Muhammadiyah dengan isu transnasional dan nasional.

Kedua, kalau kasusnya adalah mengancam NKRI, inipun sesungguhnya sangat absurd. Apa yang dimaksud mengancam? Apakah gerakan-gerakan ini melakukan separatisme seperti GAM atau OPM? Sepanjang sejarah organisasi-organisasi ini berdiri sama sekali tidak ada indikasi ke arah sana. Bahkan dalam kasus PKS, organisasi ini malah ikut dalam sistem NKRI: membuat partai dan ikut pemilu. Bukankah ini malah memperkuat NKRI?

HTI memang mewacanakan berdirinya Khilafah Islamiyah yang beroperasi secara internasional. Namun, sampai hari ini adakah gerakan makar militer yang dilakukan HTI? Bukankah yang dilakukan baru sebatas wacana? Bukankah wacana-wacana itu dapat dengan mudah ditemukan di ruang-ruang publik dan bukan merupakan rahasia. Semua orang dengan mudah dapat membaca bahwa gerakan yang dilakukan oleh HTI ini sifatnya evolusioner. HTI mewujudkan misi dakwahnya dengan marhalah-marhalah yang seandainya semuanya benar-benar akan terjadi, ia akan terjadi pada saat sebagian besar orang menerimanya. Dan pada saat itu, tidak penting lagi berbicara NKRI atau bukan.

Isu mengancam NKRI ini lebih absurd lagi ketika dialamatkan kepada jamaah Salafi. Di negeri asalnya, Saudi Arabia, gerakan ini bukanlah gerakan anti-negara. Ia bahkan gerakan yang mendapat sokongan dari negara. Akan terlihat lebih jelas karakternya ketika kita dalami apa yang menjadi pokok ajaran kelompok ini. Bagi mereka kekuasaan adalah anugerah atau azab. Yang terpenting dakwah memperbaiki akidah dan ibadah umat. Ketika akidah dan ibadah umat sudah benar, dengan sendirinya Allah akan memberikan pemimpin yang adil. Begitu pula sebaliknya. Dari sisi ini, apa yang berbahaya dari gerakan Salafi bagi NKRI. Sama sekali tidak masuk akal kalau gerakan Wahabi semacam ini dianggap sebagai ancaman bagi NKRI.

Adu Domba
Memperhatikan dari mana munculnya isu Wahabi dan Islam transnasional ini, justru kita patut curiga ada agenda asing di balik semua itu. Sebagian besar proyek yang ujung-ujungnya mendeskriditkan “Islam transnasional” ini dibiayai, atau paling tidak disokong, oleh lembaga-lembaga pro-Barat. Dalam kasus buku Ilusi Negara Islam jelas-jelas semuanya dibiayai oleh Barat.

Pertanyaannya sederhana. Mengapa kalau ada Islam yang terpengaruh oleh Timur Tengah dicurigai sebagai akan mengancam NKRI, sementara proyek-proyek yang dibiayai Barat tidak dicurigai? Bukankah Timur Tengah tidak pernah menjajah negeri ini, sementara Barat penuh sejarah hitam kolonialisme dan penindasan? Sangat aneh negeri yang bersahabat sejak lama dicurigai, tapi negeri yang belum “ikhlas” melepas negara jajahannya merdeka justru dipercaya sepenuhnya. Jelas ini tidak masuk akal.

Sepanjang sejarah Indonesia merdeka yang banyak mengganggu kedaulatan NKRI justru Barat (baca: Amerika dan Eropa), paling tidak kedaulatan ekonomi. Sudah sejak lama aset-aset negeri ini dihisap oleh Amerika melalui Exxon, Freeport, Chevron, dll. Kekayaan alam negeri ini tidak ada yang luput dari incaran mereka. Tidak ada satupun cerita negara-negara di Timur Tengah yang dituduh sebagai sarang teroris melakukan apa yang dilakukan Amerika terhadap negeri ini.

Bagaimanapun negara-negara Barat takut kalau umat Islam bersatu. Kekuatan umat Islam sangat besar bila tidak terpecah-pecah. Oleh sebab itu, salah satu strategi Barat menghadapi umat Islam yang masih dipertahankan adalah devide et impera (pecah belah dan adu domba).

Isu Islam transnasional, dalam konteks ini, sangat jelas adalah usaha baru Barat untuk memecah kekuatan umat Islam. Dahulu umat Islam Indonesia diadu domba dengan isu “tradisionalis-modernis” “NU-Muhammadiyah”. Kini, saat isu itu sudah mereda dan sebagian besar umat Islam sudah menyadari kekeliruannya, dimunculkanlah isu baru. Barat sengaja ingin mengadu antara NU-Muhmmadiyah yang sudah mulai ishlâh dengan gerakan-gerakan Islam baru: PKS, HTI, Salafi, MMI, dan semisalnya. Kalau umat Islam sampai terprovokasi lagi dengan isu-isu murahan semacam ini, kesalahan lama akan terulang lagi. Jangan sekali-kali kita melupakan sejarah.



Tiar Anwar Bachtiar, S.S., M.Hum.
Alamat : Jl. Guntur no. 156 A Garut
Hp. : 0815-469-55-764
Lanjuuttt nyoookk....

Facebookers

Teman

Komentarmu


ShoutMix chat widget

Anda Pengunjung ke

Link Komunitasku

gerakan indonesia bangkit PartaiKu Hizbut Tahrir

Link Blog

 

Rabithah

Ya,Allah seseungguhnya Engkau mengetahui bahwa semua hati kami ini telah bersatu berdasarkan kecintaan kepada-Mu,berjumpa di atas ketaatan kepada-Mu,berhimpun di atas dakwah-Mu,maka kuatkanlah-Ya Allah-ikatannya,kekalkanlah kasih sayang di antaranya,tunjukkan jalannya,serta penuhilah ia dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah padam. Lapangkanlah dadanya dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakl kepada-Mu,hidupkanlah ia dengan makrifah kepada-Mu,dan matikanlah ia sebagai syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik penolong. Ya Allah, kabulkanlah dan limpahkanlah salawat serta salam,ya Allah, kepada Muhammad,juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya